Saturday, January 14, 2017

Tujuan dan Strategi Pendidikan Multikultural

Pendidikan Multikultural - Pada postingan sebelumnya telah dijelaskan tentang seperti apa konsepsi dari pendidikan multikultural. Maka, pada postingan kali ini, Membumikan Pendidikan akan mengulas mengenai bagaimana tujuan dan strategi pendidikan multikultural itu sendiri. Berikut ulasan singkatnya.

Dalam konsep pendidikan multikultural, fokus dari pendidikan multikultural tidak lagi diarahkan semata-mata pada kelompok rasial, agama, dan kultural domain atau mainstream. Fokus demikian ini pernah menjadi tekanan pada pendidikan interkultural yang menekankan peningkatan pemahaman dan toleransi individu-individu yang berasal dari kelompok minoritas terintegrasi ke dalam masyarakat mainstream. Pendidikan multikultural sebenarnya merupakan sikap “peduli” dan mau mengerti terhadap perbedaan (difference) atau politic of recognition (politik pengakuan) terhadap orang-orang dari kelompok minoritas. Lebih singkatnya, tujuan inti dari subjek pendidikan multikultural adalah untuk mencapai pemberdayaan (empowerment) bagi kelompok-kelompok minoritas dan disadvantaged.


Bagian terpenting dari pada pendidikan multikultural adalah bagaimana menumbuhkan sensitivitas peserta didik akan kebudayaan, budaya masyarakat yang bersifat plural? Dengan bahasa lain, bagaimana orang-orang dapat belajar tentang berbagai macam alternatif untuk mempersepsi, berperilaku, dan mengevaluasi kelompok lainnya sehingga mereka dapat menyesuaikan kepada multikultur yang diperlukan untuk kesejahteraan bersama, tanpa melakukan pengurangan penerimaan akan etnisitasnya sendiri yang orisinal.
Karakteristik Pendidikan Multikultural
Menurut Tilaar, pendidikan multikultural biasanya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
  • Tujuannya membentuk manusia budaya dan menciptakan masyarakat berbudaya (berperadaban)
  • Materinya mengajarkan nilai-nilai luhur kemanusian, nilai-nilai bangsa, dan nilai-nilai kelompok etnis (cultural)
  • Metodenya demokratis, yang menghargai aspek-aspek perbedaan dan keberagaman budaya bangsa dan kelompok etnis (multikulturalis), dan
  • Evaluasinya ditentukan pada penilaian terhadap tingkah laku anak didik yang meliputi persepsi, apresiasi, dan tindakan terhadap budaya lainnya (H.A.R Tilaar, 2004: 59).

Tujuan Pendidikan Multikultural

Dalam konteks di atas dapat dikatakan, tujuan utama dari pendidikan multikultural adalah untuk menanamkan sikap simpati, respek, apresiasi, dan empati terhadap penganut agama dan budaya yang berbeda. Dan yang terpenting dari strategi pendidikan multikultural ini tidak hanya bertujuan agar supaya siswa mudah memahami pelajaran yang dipelajarinya. Akan tetapi, juga untuk meningkatkan kesadaran mereka agar selalu berperilaku humanis, pluralis, dan demokratis.

Tujuan dan Strategi Pendidikan Multikultural
Secara lebih operasional, Judith H. Kazt, sebagaimana dikutip Ardiansyah, menyatakan ada empat tujuan pendidikan multikultural, yaitu:
  1. Memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik guna mengenalkan secara kritis kemampuan evaluasi untuk melawan isu-isu seperti realisme, demokrasi, partisipatory, dan exime.
  2. Mengembangkan keterampilan peserta didik untuk klarifikasi nilai, termasuk kajian untuk mentransmisikan nilai-nilai yang laten dan manifes.
  3. Menguji dinamika keberagaman budaya dan implikasinya kepada strategi pembelajaran guru.
  4. Mengkaji variasi kebahasaan dan keberagaman gaya belajar peserta didik sebagai dasar bagi pengembangan strategi pembelajaran yang sesuai.

Strategi Pendidikan Multikultural

Agar berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan di atas, yakni memberikan perspektif multikultural kepada para peserta didik. Maka, ada beberapa strategi yang harus dilakukan dalam konteks pendidikan multikultural, antara lain: Pertama, belajar bagaimana dan di mana menentukan tujuan, informasi yang akurat tentang kelompok-kelompok kultur yang beragam. Kedua, mengidentifikasikan aspek-aspek positif individu atau kelompok etnik yang berbeda.
Ketiga, belajar toleran untuk keberagaman melalui eksperimentasi di dalam sekolah dan kelas dengan praktek-praktek dan kebiasaan yang berlainan. Keempat, mengembangkanlah perilaku-perilaku yang empatis melalui bermain peran (role playing) dan simulasi. Kelima, menerapkan penggunaan “perpective glasses”, yakni melihat suatu even babakan sejarah, atau isu-isu melalui perspektif kelompok budaya atau lainnya.

Keenam, mengembangkan rasa penghargaan diri (self-esteem) seluruh peserta didik. Ketujuh, mengidentifikasikan dan analisis streotip budaya. Dan kedelapan, mengidentifikasikan semua kasus diskriminasi serta prasangka sosial yang berasal dari kehidupan peserta didik sehari-hari (P.H. Martorella, 1994: 16).

Demikianlah ulasan mengenai tujuan dan strategi pendidikan multikultural. Semoga dapat menambah wawasan kebangsaan sahabat-sahabat Membumikan Pendidikan dan dapat membuka pikiran untuk selalu bersikap toleran dan saling menghargai perbedaan. Sehingga pada akhirnya menjadikan bangsa Indonesia bangsa yang sangat disegani.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon