Friday, October 20, 2017

Pesantren di Tengah Benturan Peradaban Dunia

Kemajuan teknologi yang sudah tak terkendali, telah berpengaruh tidak hanya pada wilayah pengetahuan belaka. Namun lebih dari itu, munculnya alat-alat  transportasi, informasi dan computer, telah merombak perilaku hidup manusia kekinian. Saat ini, manusia dengan mudah dan cepat bisa berkomunikasi dengan orang lain meski dari tempat yang jauh. Manusia bahkan mampu melakukan pekerjaan secara bersamaan dengan bantuan alat computer. Segala macam aktivitas yang pada asalnya memerlukan perpindahan tubuh dari satu ruang ke ruang yang lain sekarangpun bisa diwakili dengan teknologi.

Sebut saja, jika dahulu untuk berkomunikasi dengan orang lain, praksis kita harus mencarinya dan bertemu muka secara berhadap-hadapan. Dan jika orang itu tinggal di tempat yang begitu jauh, maka kita pun harus menempuh perjalanan itu selama berhari-hari. Tapi realitas ini jadi berbalik, segala perbuatan konyol tersebut tidak perlu dilakukan lagi. Inilah kecanggihan teknologi. Dan fenomena semacam ini kemudian dikenal orang dengan sebutan globalisasi (globalization).
Pesantren di Tengah Benturan Peradaban Dunia
Sebagai sebuah istilah, globalisasi baru muncul beberapa tahun silam. Pada mulanya, terminologi ini tak begitu popular namun secara begitu saja menyebar dan merebak di mana-mana dan hampir semua orang menggunakannya. Kadang dalam pembicaraan politik, budaya, ekonomi bahkan juga agama, seolah tanpa menyebut istilah tersebut pembicaraan menjadi tidak menarik dan kehilangan keseriusannya. Ibarat makanan tanpa garam, begitulah kira-kira pembicaraan atau diskusi-diskusi tanpa menyebut istilah globalisasi di dalamnya.

Sebuah lukisan yang menarik mengenai fenomena ini, diungkap oleh seorang guru bisnis Kinice Ohmae:
Kita sekarang hidup dalam dunia tanpa batas, di mana negara bangsa sudah menjadi sebuah rekaan dan di mana para politikus telah kehilangan semua kekuatan efektifnya.
Era globalisasi adalah era di mana dunia telah melebur menjadi satu. Revolusi komunikasi dan penyebaran teknologi telah berakibat pada semakin lunturnya antara sekat budaya, suku, dan negara. Gerak teknologi tak mungkin dibatasi oleh pemerintah sekuat apapun. Apa yang terjadi saat ini, jauh di negeri Barat misalnya, akan sangat berpengaruh dengan kehidupan orang-orang Indonesia.

Baca juga: Pengaruh dan Dampak Globalisaasi terhadap Pendidikan

Globalisasi dengan revolusi informasinya, ternyata banyak sekali memberikan efek negatif yang tidak kita inginkan. Salah satunya adalah keluar masuknya budaya luar tanpa ada sensor dan filter, dan kita pun tidak bisa mengendalikannya. Realitas ini ternyata sangat meresahkan, karena mempunyai kemungkinan besar untuk memarginalisasikan atau bahkan mematikan budaya lokal yang sebenarnya tak sedikit yang mengandung kearifan tradisional (traditional wisdom).

Dan sebagai tambahan, globalisasi juga sangat memungkinkan munculnya fenomena Universal Civilization. Nah, sebagai reaksi terhadap fenomena ini sangat memungkinkan munculnya kesadaran lokal yang berujung pada bangkitnya kesadaran etnik yang cenderung eksklusif dan intoleran.

Huntington dalam sebuah bukunya yang cukup menggegerkan berjudul “Clash Civilization” meramalkan mengenai dunia. Bahwa salah satu masalah yang perlu menjadi perhatian dunia saat ini adalah dikhawatirkannya terjadi konflik antar peradaban. Tesis Huntington ini dijelaskan oleh Syamsul Arifin dalam bukunya “Islam Indonesia: Sinergi Membangun Civil Islam dalam Bingkai Keadaban Demokrasi” bahwa sedikitnya ada 6 alasan yang telah dijadikan alasan Huntington tentang kenapa konflik atau benturan peradaban dapat terjadi.
  1. Perbedaan antar peradaban tak hanya ril, tapi juga mendasar. Peradaban terdeferensiasi oleh sejarah, Bahasa, budaya, tradisi, dan yang paling penting adalah agama.
  2. Dunia sekarang semakin menyempit, interaksi antar orang yang berbeda peradaban semakin meningkat, interaksi bangsa-bangsa yang berbeda pendapat meningkatkan kesadaran mereka hingga pada gilirannya memperkuat perbedaan dan kebencian yang merentang jauh.
  3. Proses modernisasi ekonomi dan perubahan sosial dunia, membuat orang atau masyarakat tercerabut dari identitas lokal mereka, di samping memperlemah negara sebagai sumber identitas mereka.
  4. Tumbuhnya kesadaran peradaban dimungkinkan karena peran ganda Barat di satu sisi, serta  Barat berada di puncak kekuatan di sisi yang lain.
  5. Karakteristik dan perbedaan budaya kurang bisa menyatu.
  6. Regionalisme ekonomi semakin meningkat, blok-blok ekonomi regional tampak terus meningkat pada masa yang akan dating.

Demikianlah, mengacu pada tesis Huntington tersebut, maka diramalkan konflik di masa mendatang tidak lagi berupa ideologi atau  ekonomi, melainkan berupa budaya. Sumber konflik antar negara dan antar peradaban dalam skala yang lebih luas merupakan faktor-faktor penyebab timbulnya konflik antar kelompok, control terhadap masyarakat, wilayah territorial, kekayaan, sumber daya alam, serta kekuatan relatif yang dapat memaksakan nilai-nilai institusi-institusinya terhadap kelompok lain.

Tentang hal ini, Inung S Enha dalam bukunya yang berjudul “Sangkar Besi Agama” mengatakan bahwa banyak hal yang bisa dijadikan sebagai argument pendukung dalam tesis tersebut, di antaranya adalah keberadaan dunia yang semakin mengglobal. Alasannya, dengan makin menyempitnya petak dunia, membuat interaksi masyarakat dan peradaban yang berbeda terus mengalami peningkatan. Jika hal tersebut berlangsung secara intensif, tentu akan mengakibatkan menguatnya kesadaran peradaban itu  sendiri dan semakin sensitif terhadap perbedaan dengan peradaban lain.

Di sisi lain, proses modernisasi ekonomi dan perubahan sosial turut pula menyokong keberadaan tersebut. Karena hal itu terbukti telah mengakibatkan tercerabutnya masyarakat dari akar-akar identitas lokal, yang telah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama. Sebab pada proses modernisasi selalu saja melibatkan industrialisasi, urbanisasi, meningkatnya masyarakat yang melek huruf, tingkat pendidikan, kesejahteraan, mobilisasi sosial, pelbagai tantangan yang komplek dan beragam.

Berhadapan dengan globalisasi dan ancaman kuatnya benturan peradaban maka tak mungkin pesantren masih bertahan dengan pola pembelajaran yang lama. Tuntutan masyarakat global adalah profesionalisme, penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, serta etos kerja yang tinggi. Maka, karena itulah watak profesionalisme dan penguasaan teknologi serta pengetahuan yang standar, diperlukan di pondok pesantren. Jika tidak, tentunya pesantren harus siap-siap digilas oleh laju zaman, ditinggalkan orang karena using dan tak layak pakai.

Jika kita mengorelasikan benturan peradaban sebagaimana yang diramalkan Huntington, maka sesungguhnya konflik yang paling mudah menyebar dan sangat penting sekaligus berbahaya bukanlah konflik antar kelas sosial, akan tetapi konflik antar orang-orang yang memiliki entitas budaya yang berbeda. Pertikaian antar suku dan konflik-konflik antar etnis dalam perdaban akan senantiasa terjadi.

Dalam kondisi yang semacam ini beberapa hal yang perlu dijadikan catatan dunia pesantren adalah, pertama, konflik yang rawan terjadi pada dunia pesantren sendiri adalah masalah persoalan aliran dan keagamaan. Maka, sebagai antisipasi terhadap terjadinya konflik tersebut, pesantren hendaknya menyosialisasikan semangat inklusifitas.

Kedua, berhadapan dengan derasnya arus informasi yang terus mengalir dengan beraneka ragam, pola hidup dan budaya yang ditawarkan. Maka, mau tidak mau pihak pesantren harus mempersiapkan mental, hingga tidak mudah larut dengan budaya besar, sekaligus tidak serta merta menutup diri dengan budaya yang terus menerus hadir. Bersikap kritis dan kreatif merupakan sesuatu yang tidak bisa dinafikan.

Ketiga, boleh jadi ramalan Huntington tentang adanya konflik antar peradaban tersebut benar, namun tidak juga menutup kemungkinan. Bahwa konflik tersebut mampu dihindari. Salah satu caranya adalah dengan mengerahkan seluruh kreativitas masyarakat untuk menjembatani dan memfasilitasi hubungan antara berbagai macam masyarakat yang berbeda-beda. Dengan demikian akan mampu mengikat perasaan emosional antar mereka dan akhirnya mampu meminimalisir konflik tersebut.

Nah, dalam rangka menyongsong Hari Santri 22 Oktober 2017 yang jatuh pada hari Minggu mendatang, marilah kita bulatkan tekad dan semangat inklusifitas ini, sehingga kita akan mampu menghormati pendapat orang lain di luar kelompok kita. Menjadi eksklusif tentunya akan rawan konflik, karena konflik selalu terjadi sebagai akibat dari pemahaman yang dangkal tentang agama yang senantiasa menganggap kelompok kita yang paling benar.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon